img

Potensi Kehilangan PNBP Batu Bara Puluhan Triliun, Yulian Gunhar Soroti Kegagalan Pengawasan Negara

Anggota Komisi XII DPR RI Yulian Gunhar menyoroti potensi hilangnya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor batu bara hingga puluhan triliun rupiah. Ia menilai pengawasan yang lemah menyebabkan negara kehilangan royalti besar.

Potensi Kehilangan PNBP Batu Bara Puluhan Triliun, Yulian Gunhar Soroti Kegagalan Pengawasan Negara Anggota Komisi XII DPR RI, Yulian Gunhar dalam RDP Komisi XII DPR RI dengan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM

Jakarta — Negara berpotensi kehilangan puluhan triliun rupiah. Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Yulian Gunhar, menyoroti lemahnya pengawasan di sektor pertambangan batu bara yang mengakibatkan potensi kehilangan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sangat besar.

Yulian Gunhar mengungkapkan berdasarkan perhitungannya, potensi kehilangan royalti batu bara saja bisa mencapai Rp19,4 triliun.

“Potensi kehilangan PNBP dari sektor batu bara sangat besar. Berdasarkan perhitungan, royalti saja bisa mencapai Rp19,4 triliun,” ujar Yulian Gunhar dalam keterangan resminya, Senin (19/5/2026).

Menurutnya, masalah utama terletak pada mekanisme pengawasan dan pelaksanaan kewajiban perusahaan tambang yang masih belum optimal. Banyak celah yang dimanfaatkan pengusaha sehingga negara kehilangan pendapatan signifikan.

Yulian menekankan pentingnya penguatan pengawasan dan penegakan aturan yang lebih tegas agar potensi kebocoran PNBP bisa diminimalisir. Ia juga mendesak pemerintah, khususnya Kementerian ESDM dan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, untuk segera memperbaiki sistem pengawasan dan pelaporan produksi serta penjualan batu bara.

“Kalau tidak ditangani serius, negara akan terus kehilangan pendapatan yang seharusnya bisa digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Kasus ini menjadi sorotan karena batu bara masih menjadi salah satu penyumbang terbesar PNBP Indonesia. Namun, di balik itu, potensi kebocoran yang sangat besar akibat lemahnya pengawasan terus menjadi masalah kronis.

Banner Side 1
BAGIKAN :