img

MBG 2026: Dari Sekolah, Pangan Terjaga dan Ekonomi Rakyat Menggeliat

Ketua Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan MN KAHMI, Laca Muhammad, menilai bahwa MBG adalah instrumen konkret untuk memastikan surplus pangan tersalurkan secara produktif menggerakan ekonomi rakyat

MBG 2026: Dari Sekolah, Pangan Terjaga dan Ekonomi Rakyat Menggeliat Ketua Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan MN KAHMI, Laca Muhammad. (foto: dok.pribadi)

Jakarta, IDNNOW.ID - Indonesia mengawali tahun 2026 dengan catatan gemilang di sektor pangan melalui surplus beras sebesar 2,4 juta ton pada musim tanam pertama. 

Menanggapi kelimpahan stok ini, pemerintah resmi mengintegrasikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai strategi utama penyerapan produksi nasional sekaligus penguatan gizi masyarakat.

Ketua Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan MN KAHMI, Laca Muhammad, menilai bahwa MBG adalah instrumen konkret untuk memastikan surplus tersebut tersalurkan secara produktif. Selain menjaga stabilitas harga di tingkat petani, program ini diproyeksikan menjadi mesin penggerak ekonomi berbasis kerakyatan yang menyentuh sektor akar rumput.

“Program MBG membuka jalur distribusi yang jelas bagi petani. Surplus beras dapat terserap optimal di dalam negeri, sehingga tidak menekan harga di tingkat produsen,” ujar Laca dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (21/4/2026)

Menurut Laca, skema kerja sama antara petani dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memberikan kepastian pasar yang selama ini menjadi tantangan utama sektor pertanian.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Sumarno, petani asal Bojonegoro, Jawa Timur. Setelah menjalin kontrak dengan SPPG setempat, ia mampu menyalurkan 1,5 ton beras setiap bulan dengan harga stabil di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

“Pendapatan bersih meningkat sekitar 22 persen sejak ada kontrak tetap,” ungkapnya.

Tak hanya berdampak pada petani, implementasi MBG juga membuka lapangan kerja dalam skala besar. Hingga April 2026, tercatat sekitar 25 ribu unit SPPG telah beroperasi di berbagai daerah.

“Secara nasional, program ini telah menyerap sekitar 1,2 juta tenaga kerja,” kata Laca.

Dari sisi masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah, program ini turut meringankan beban pengeluaran harian. Penghematan biaya pangan diperkirakan mencapai 10 hingga 15 persen.

Selain itu, terdapat peningkatan angka kehadiran siswa sebesar 4,5 persen di sekolah-sekolah penerima manfaat, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan pangan tinggi.

Laca menegaskan, MBG bukan sekadar program bantuan, melainkan strategi jangka panjang yang menghubungkan sektor produksi, distribusi, hingga konsumsi secara terintegrasi.

“Program ini telah memberikan dampak nyata, baik terhadap ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, maupun pemenuhan gizi bagi lebih dari 18 juta siswa. Ke depan, cakupannya akan terus diperluas,” tegasnya.

Dengan demikian, MBG dinilai menjadi instrumen penting dalam memastikan hasil pertanian terserap maksimal sekaligus membangun fondasi generasi yang lebih sehat.

Integrasi antara swasembada pangan dan intervensi gizi ini menjadi salah satu pilar utama dalam memperkuat kedaulatan nasional dari tingkat paling dasar: meja makan masyarakat. (*)
 

Banner Side 1
BAGIKAN :