Ketika Presiden Prabowo Subianto menghidupkan kembali istilah londo ireng, ia sesungguhnya membuka perdebatan klasik filsafat politik: bagaimana negara mengenali musuhnya tanpa kehilangan watak demokrasinya sendiri. Schmitt, Mouffe, dan Habermas menawarkan tiga jawaban yang saling menguji satu sama lain.