img

Memaknai Idul Adha sebagai Pendidikan Profetik

Idul Adha menyimpan pesan eksistensial bahwa manusia kerap terikat pada hal-hal duniawi secara berlebihan hingga melupakan esensi cinta yang paling hakiki

Memaknai Idul Adha sebagai Pendidikan Profetik Founder Sinergi Pendidikan Indonesia - Aldo Muhamad Derlan. (foto: dok.pribadi)

Jakarta- Momen Idul Adha kembali hadir mengajak kita untuk mengingat dan meneladani keteguhan jiwa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Keduanya merupakan personifikasi dari keteguhan iman dan totalitas kepasrahan. 

Idul Adha menyimpan pesan eksistensial bahwa manusia kerap terikat pada hal-hal duniawi secara berlebihan hingga melupakan esensi cinta yang paling hakiki. 

Fenomena spiritual inilah yang mendasari pentingnya merefleksikan kembali spirit pendidikan profetik di tengah realitas kontemporer.

Dalam konteks masyarakat kontemporer yang menghadapi krisis keteladanan, individualisme, serta melemahnya nilai-nilai kemanusiaan.

Idul Adha menghadirkan pelajaran penting tentang pengorbanan, ketaatan, dan solidaritas sosial.

Manifestasi Pendidikan Profetik

Konsep pendidikan profetik sendiri berakar dari gagasan Kuntowijoyo yang menempatkan nilai-nilai kenabian sebagai fondasi transformasi sosial. 

Menurut Kuntowijoyo (2008), dalam Paradigma Islam: interpretasi untuk aksi, pendidikan profetik adalah proses pembentukan manusia yang berorientasi pada tiga nilai utama, yaitu humanisasi (memanusiakan manusia), liberasi (pembebasan), dan transendensi (keimanan kepada Tuhan)

Dalam perspektif ini, Idul Adha dapat dimaknai sebagai praktik nyata pendidikan profetik yang diwariskan melalui kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. 

Kisah pengorbanan tersebut merupakan simbol pendidikan spiritual tentang kepatuhan total kepada kehendak Tuhan. 

Nabi Ibrahim memperlihatkan dimensi transendensi melalui ketaatan yang melampaui logika manusiawi, sedangkan Nabi Ismail menunjukkan keteladanan moral berupa keikhlasan dan kesabaran.

Selain transendensi, Idul Adha juga mengandung dimensi humanisasi. Penyembelihan hewan kurban juga memiliki makna sosial yang kuat. 

Dalam masyarakat yang masih diwarnai ketimpangan ekonomi, kurban menjadi simbol keadilan sosial dan empati terhadap sesama.

Sementara itu, dimensi liberasi dalam pendidikan profetik juga tampak dalam makna pengorbanan Idul Adha. Pengorbanan bukan hanya menyembelih hewan, melainkan kemampuan manusia mengalahkan hawa nafsu, egoisme, keserakahan, dan kecintaan berlebihan terhadap materi. 

Berdasarkan hal itu, Idul Adha menjadi salah satu bentuk ritual yang mempererat hubungan antarmanusia melalui semangat berbagi dan kebersamaan. Nilai tersebut penting di tengah masyarakat modern yang semakin individualistik akibat perkembangan teknologi dan budaya digital.

Lebih jauh, pendidikan profetik dalam Idul Adha juga menegaskan pentingnya keteladanan moral. Krisis terbesar masyarakat saat ini bukan semata krisis ekonomi atau politik, tetapi krisis integritas dan keteladanan. 

Banyak pemimpin kehilangan orientasi moral karena lebih mengutamakan kepentingan kekuasaan daripada kepentingan rakyat. Dalam konteks ini, Nabi Ibrahim menghadirkan teladan kepemimpinan profetik yang berlandaskan kejujuran, pengorbanan, dan tanggung jawab spiritual.

Idul Adha akhirnya mengajarkan bahwa agama bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. 

Karena itu, memaknai Idul Adha sebagai pendidikan profetik berarti menjadikan momentum kurban sebagai sarana membangun karakter manusia yang beriman dan berkeadilan. 

Nilai-nilai profetik yang terkandung dalam Idul Adha perlu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam dunia pendidikan, politik, ekonomi, maupun kehidupan sosial masyarakat. 

Sebab pada hakikatnya, pengorbanan terbesar manusia bukan hanya memberi sesuatu yang dimiliki, tetapi juga keberanian menempatkan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan di atas kepentingan pribadi.(*)

Penulis: Founder Sinergi Pendidikan Indonesia - Aldo Muhamad Derlan

Banner Side 1
BAGIKAN :