Pemerintah Cina memberlakukan moratorium pembangunan smelter aluminium baru di dalam negeri. Akibatnya, investor Cina kini melirik Indonesia sebagai destinasi investasi smelter aluminium yang potensial.
Foto: Ilustrasi
Jakarta - Pemerintah Cina resmi memberlakukan moratorium pembangunan smelter aluminium baru. Kebijakan ini membuat investor Cina mencari lokasi alternatif, dan Indonesia menjadi salah satu negara tujuan utama.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, mengatakan Indonesia siap menyambut peluang investasi tersebut.
"Kita melihat adanya peluang besar dari kebijakan Cina yang melakukan moratorium smelter aluminium. Indonesia memiliki cadangan bauksit yang melimpah, sehingga menjadi destinasi yang sangat menarik bagi investor Cina," ujar Rosan, Rabu (20/5/2026).
Menurut data BKPM, sejumlah investor aluminium asal Cina telah melakukan komunikasi dan studi kelayakan untuk membangun smelter di Indonesia. Lokasi yang paling diminati berada di Kalimantan dan Sumatra, yang memiliki ketersediaan bahan baku bauksit dan listrik yang memadai.
Mengapa Indonesia jadi incaran?
Rosan menambahkan bahwa pemerintah akan memfasilitasi investor yang serius untuk berinvestasi di sektor ini, dengan tetap mengedepankan prinsip hilirisasi dan nilai tambah di dalam negeri.
"Dengan moratorium di Cina, ini adalah kesempatan emas bagi Indonesia untuk menarik investasi besar di industri aluminium," tegasnya.
Sebelumnya, pemerintah Cina menghentikan sementara pembangunan smelter baru untuk mengendalikan produksi aluminium domestik yang berlebih dan mengurangi emisi karbon.