Inflasi tahunan Amerika Serikat naik menjadi 3,8 persen pada April 2026, tertinggi sejak 2023. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga energi akibat konflik dengan Iran yang mengganggu pasokan minyak global melalui Selat Hormuz.
Jakarta - Inflasi Amerika Serikat terus memburuk akibat dampak perang dengan Iran. Data Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) AS yang dirilis Selasa (12/5/2026) menunjukkan inflasi tahunan mencapai 3,8 persen pada April 2026, naik dari 3,3 persen pada Maret.
Angka ini merupakan level tertinggi dalam tiga tahun terakhir dan jauh melebihi ekspektasi pasar. Kenaikan inflasi ini terutama didorong oleh lonjakan harga energi yang merembet ke berbagai sektor kebutuhan pokok masyarakat Amerika.
Harga energi naik 3,8 persen secara bulanan, sementara harga bensin melambung hingga 28,4 persen dibandingkan periode sebelumnya. Gangguan pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz jalur yang mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas dunia menjadi pemicu utama.
Selain energi, komponen lain ikut terdampak. Tarif tiket pesawat melonjak 20,7 persen, harga makanan naik 3,8 persen, dan biaya layanan energi rumah tangga meningkat 5,4 persen. Kondisi ini semakin memberatkan daya beli rumah tangga Amerika.
Survei Universitas Michigan juga mencatat penurunan tajam sentimen konsumen. Masyarakat semakin khawatir dengan kondisi ekonomi dan biaya hidup yang terus meroket, mengingatkan pada krisis inflasi tahun 2022.
Perang yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah menciptakan gejolak di pasar energi dunia. Konflik ini tidak hanya berdampak pada harga minyak mentah, tetapi juga memicu efek domino pada transportasi, logistik, dan harga pangan.