img

Analisis Berita Salah Satu Media Nasional Tentang Yasinta Moiwend di Jakarta

Iwan Setiawan, mengkritik cara salah satu media nasional membingkai pemberitaan investigasinya terkait Yasinta Moiwend alias Mama Sinta perempuan Papua yang dikenal karena sikapnya menolak dan melaporkan film pesta babi.

Analisis Berita Salah Satu Media Nasional Tentang Yasinta Moiwend di Jakarta Iwan Setiawan Direkrut IPR

Direktur Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, mengkritik cara salah satu media nasional membingkai pemberitaan investigasinya terkait Yasinta Moiwend alias Mama Sinta perempuan Papua yang dikenal karena sikapnya menolak dan melaporkan film pesta babi. Menurut Iwan, pemberitaan tersebut mempraktikkan framing media yang mengarahkan persepsi publik seolah sikap Mama Sinta bukan lahir dari kesadarannya sendiri, melainkan akibat tekanan atau intervensi dari aparat dan pemerintah.

"Berita tersebut membuat semacam framing agar persepsi publik terhadap sikap Mama Sinta yang menolak dan melaporkan film pesta babi seolah ada intervensi pemerintah," ujar Iwan.

Upaya framing itu, menurut Iwan, terlihat dari cara pemberitaan menyajikan informasi antara lain dengan mengungkap keberadaan sejumlah orang yang diduga polisi atau anggota BIN saat Mama Sinta beraktivitas di Jakarta. Penyajian semacam itu dinilai sengaja membangun sugesti adanya keterlibatan aparat, meski tanpa fakta objektif yang memadai.

"Tidak ada fakta yang objektif bahwa pihak pemerintah, BIN, atau polisi secara langsung melakukan tekanan atau intervensi terhadap sikap Mama Sinta," tegas Iwan.

Iwan kemudian menjelaskan konteks teoretis di balik kritiknya. Ia membedakan antara agenda setting dan framing dua konsep dalam ilmu komunikasi yang kerap disalahpahami.

"Dalam teori agenda setting, media berfokus pada isu apa yang dianggap penting. Namun framing melangkah lebih jauh tidak hanya memilih isu, tetapi juga mengarahkan bagaimana masyarakat harus menafsirkan isu tersebut," jelasnya.

Dalam hal ini, Iwan menilai media tersebut tidak sekadar menentukan agenda, tetapi secara aktif menggiring pembaca untuk menyimpulkan bahwa sikap Mama Sinta tidak murni melainkan dipengaruhi tekanan aparat, pemerintah, maupun pihak perusahaan, serta bahwa selama di Jakarta Mama Sinta difasilitasi oleh aparat.

Yang menjadi sorotan Iwan adalah abainya media tersebut terhadap fakta dari sisi Mama Sinta sendiri. Mama Sinta secara langsung telah membantah adanya intervensi maupun tekanan dari pihak mana pun, dan bahkan menyebut tuduhan tersebut sebagai fitnah. Mama Sinta juga membantah menggunakan jet pribadi sebagaimana yang disuguhkan dalam pemberitaan.

"Yang paling tahu tentang Mama Sinta, termasuk sikap dan apapun yang dia lakukan, adalah Mama Sinta itu sendiri. Terkait tuduhan adanya intervensi dan tekanan dari aparat atau pemerintah, belum ada fakta konkrit yang bisa menjadi bukti secara objektif," kata Iwan.

Iwan menegaskan bahwa jurnalisme yang baik semestinya menyajikan informasi secara seimbang dan proporsional, termasuk memberikan ruang yang setara bagi pernyataan dan perspektif Mama Sinta. Pemberitaan yang hanya mengandalkan konstruksi naratif tanpa fakta yang kuat, menurutnya, justru berpotensi menyesatkan publik.

Banner Side 1
BAGIKAN :