Dari lore chasing, wellness travel, hingga AI hotel, 8 lembaga riset global ungkap 6 tren wisata 2026 yang mengubah total cara manusia memaknai sebuah perjalanan.
Foto: Ilustrasi
Jakarta - Dunia wisata sedang berubah drastis. Bukan lagi soal seberapa jauh kamu pergi atau seberapa mewah hotel yang kamu inapi, tapi soal seberapa dalam pengalaman yang kamu bawa pulang. Data dari delapan lembaga riset global terkemuka di 2026 mengungkap pergeseran besar yang mengubah cara manusia modern berwisata.
1. Industri Wisata Global Capai Angka Gila-gilaan di 2025
Sebelum bicara tren, ada satu angka yang perlu kamu tahu dulu.
Total pendapatan ekspor dari sektor pariwisata global, termasuk akomodasi, transportasi, dan aktivitas wisata mencapai USD 2,2 triliun atau sekitar Rp35.000 triliun di tahun 2025, berdasarkan data UN Tourism dalam World Tourism Barometer edisi April 2026.
Dan tren ini tidak berhenti. Memasuki 2026, UN Tourism memproyeksikan wisata internasional akan tumbuh 3 hingga 4 persen dibanding 2025.
"Prospek positif ini dikonfirmasi oleh Indeks Kepercayaan UN Tourism terbaru. Para pakar memberi skor 126 dari skala 0–200 untuk 2026, mengindikasikan ekspektasi tahun yang kuat untuk pariwisata global," tulis UN Tourism dalam laporannya.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik, harga energi yang fluktuatif, dan konflik di beberapa kawasan masih menjadi risiko nyata yang bisa menekan kepercayaan wisatawan.
2. Gen Z dan Millennial: Liburan Bukan Kemewahan, Tapi Kebutuhan
Kalau kamu termasuk yang merasa bersalah setiap kali beli tiket pesawat, tenang, kamu tidak sendirian. Dan rupanya, mayoritas Gen Z dan Millennial global sudah melampaui rasa bersalah itu.
Menurut American Express Global Travel Trends Report 2026 yang melibatkan lebih dari 8.000 responden dewasa di tujuh negara sebanyak 74% Gen Z dan Millennial menyatakan bahwa perjalanan wisata adalah pengeluaran non-negotiable alias tidak bisa ditawar.
Bahkan, sebagian besar dari mereka rela berkompromi soal karier demi bisa lebih banyak berwisata.
"Para pelancong masa kini sangat intentional dalam menghabiskan waktu liburan mereka. Mereka tidak asal pergi mereka merencanakan perjalanan yang benar-benar bermakna," kata Audrey Hendley, Presiden American Express Travel.
3. "Lore Chasing" Tren Perjalanan yang Bikin Ceritamu Lebih Berisi
Pernahkah kamu pulang liburan dan merasa cuma dapat foto, tapi tidak punya cerita menarik untuk dibagikan?
Generasi muda sekarang sudah sadar soal ini. Mereka tidak lagi mengejar spot foto semata mereka berburu "lore": cerita, keterampilan baru, dan pengalaman otentik yang hanya bisa didapat dari perjalanan itu sendiri.
Data American Express 2026 menunjukkan:
87% responden global sengaja menyisakan ruang kosong dalam itinerary untuk penemuan lokal yang tak terduga
83% Millennial dan Gen Z memprioritaskan pengalaman unik di atas atraksi wisata populer
79% aktif mencari workshop lokal dari kelas membuat tortilla di Mexico City hingga meracik parfum di Paris
76% percaya keterampilan yang diperoleh dari perjalanan lebih membekas dibanding oleh-oleh material apapun
"Sebanyak 82% Gen Z dan Millennial mengaku melakukan sesuatu yang benar-benar di luar kebiasaan mereka bukan karena suka tantangan, tapi karena itu membuat cerita yang bagus," demikian temuan laporan American Express Travel 2026.
4. Wisata Ramah Iklim Bukan Lagi Pilihan Tapi Tuntutan
Perubahan iklim tidak hanya mengubah cuaca. Ia juga mengubah cara orang merencanakan liburan.
Laporan Virtuoso Luxe Report 2026 mengungkap fakta mengejutkan: 45% agen perjalanan mewah di jaringan Virtuoso melaporkan bahwa klien mereka kini secara aktif mengubah rencana perjalanan karena kekhawatiran terhadap perubahan iklim. Perubahannya konkret, 76% lebih memilih berwisata di shoulder season untuk menghindari kepadatan dan cuaca ekstrem, sementara 75% kini mengincar destinasi dengan cuaca lebih moderat sepanjang tahun.
Tren ini juga memicu kebangkitan "kota sekunder" destinasi di luar pusat wisata utama yang menawarkan pengalaman lebih autentik dengan tekanan lingkungan lebih rendah. Platform Agoda mencatat pencarian akomodasi di destinasi sekunder Asia tumbuh 15% lebih cepat dibanding kota-kota wisata utama.
Indonesia pun bergerak. Pemerintah meluncurkan strategi "Tourism 5.0" yang bertujuan mengembangkan lima destinasi super prioritas di luar Bali sinyal kuat bahwa diversifikasi wisata bukan lagi wacana.
5. Wellness Travel Naik Level: Dari Spa ke Sains Longevity
Dulu, wellness travel identik dengan paket pijat dan kolam renang hotel bintang lima. Di 2026, definisi itu sudah jauh bergeser.
Wisatawan kini mencari perjalanan yang secara ilmiah terbukti bermanfaat bagi kesehatan jangka panjang mulai dari program longevity berbasis sains di resort eksklusif, Ayurvedic retreat di Kerala India, yoga-and-surf escape di Kosta Rika, silent retreat di British Columbia, hingga digital detox camp di pedalaman Skandinavia.
Virtuoso melaporkan banyak wisatawan kini secara eksplisit menyebut perjalanan wellness sebagai "investasi kesehatan" bukan sekadar hiburan.
"Daya tarik wellness travel melampaui batas kelas sosial dari perjalanan alam berbiaya rendah hingga tren 'healthy wealthy' di segmen premium. Sama-sama populer di kalangan solo traveler, pasangan, lansia, maupun anak muda," demikian laporan Virtuoso 2026.
6. AI Ubah Cara Hotel Melayani Tamu Sebelum Tamu Tiba
Bayangkan hotel yang sudah tahu kamu lebih suka kamar dekat lift, menyiapkan bantal ekstra sebelum kamu minta, dan sudah memesankan meja di restoran favorit semuanya sebelum kamu check-in.
Bukan fiksi ilmiah. Ini sedang terjadi sekarang.
Menurut laporan Oracle Hospitality 2026, tahun ini menjadi titik balik signifikan dalam adopsi AI di industri perhotelan: hotel mulai beralih dari reaktif merespons permintaan tamu ke prediktif, yakni mengantisipasi kebutuhan tamu sebelum mereka sadari sendiri.
Beberapa hotel bahkan sudah memungkinkan tamu mempersonalisasi setiap detail kamar sebelum tiba dari jenis bantal, mesin Pilates di kamar, tirai blackout, hingga posisi kamar paling dekat dengan buffet sarapan.
Statista dalam Travel & Tourism Trends 2026 menegaskan bahwa implementasi AI termasuk AI agents yang bisa melakukan pemesanan secara otonom akan menjadi salah satu topik paling transformatif di industri wisata global tahun ini.
Satu hal yang jelas dari semua data ini: berwisata di 2026 bukan soal seberapa banyak tempat yang kamu kunjungi, tapi seberapa dalam kamu hadir di setiap perjalanan. Apakah kamu tipe lore chaser, wellness traveler, atau sekadar ingin switch off total, industri wisata global sedang bergerak untuk menyambut semua itu.
Pertanyaannya: kamu mau ikut ke mana?