img

Tempe Makin Tipis, Mi Instan Makin Mahal, Rupiah Rp17.600 Sudah Masuk Dapur Rakyat

Rupiah tembus Rp17.600 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026) dan dampaknya sudah mulai terasa di meja makan rakyat kecil. Harga tahu, tempe, mi instan, hingga roti terancam naik seiring lonjakan biaya bahan baku impor gandum dan kedelai.

Tempe Makin Tipis, Mi Instan Makin Mahal, Rupiah Rp17.600 Sudah Masuk Dapur Rakyat

JAKARTA - Di Gunungkidul, Yogyakarta, seorang pengrajin tempe bernama Nanang tidak lagi bisa berdiam diri. Saat kurs rupiah menyentuh Rp17.506 per dollar AS, ia mulai kesulitan menahan lonjakan harga kedelai impor. Solusinya pahit: ukuran tempe diperkecil agar harga di tangan pembeli tidak berubah. Aroma fermentasi kedelai masih memenuhi ruang produksinya tapi keresahan sudah jauh lebih pekat.

Ini bukan sekadar kisah satu pengrajin. Ini alarm dari seluruh rantai pangan Indonesia.

Hingga Jumat (15/5/2026) pukul 12.00 WIB, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.601 per dollar AS, melemah 70 poin atau 0,40 persen. Angka itu bukan sekadar data di layar Bloomberg — ia sudah berjalan masuk ke dapur jutaan keluarga Indonesia.

Gandum dan Kedelai: Titik Lemah Pangan Nasional

Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan dampak pelemahan rupiah paling terasa pada komoditas pangan yang masih bergantung pada bahan baku impor seperti gandum dan kedelai. Kenaikan harga bahan baku impor sudah mulai terjadi di tingkat produsen sejak akhir April 2026 dan berpotensi diteruskan ke konsumen dalam beberapa bulan ke depan.

"Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik. Ini berarti harga mi instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi merangkak naik," ujar Rahma.

Data BPS mencatat total impor kedelai Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 2,56 juta ton, dengan sekitar 90 persen di antaranya berasal dari Amerika Serikat. Ketergantungan itu kini menjadi bumerang di tengah tekanan kurs.

Yang Paling Terpukul: Rakyat Kecil

Rahma menjelaskan kenaikan harga tahu dan tempe akan sangat dirasakan kelompok masyarakat bawah karena kedua produk tersebut menjadi sumber protein utama dengan harga paling terjangkau. 

Sementara itu kelompok kelas menengah mulai terbebani oleh mahalnya makanan olahan dan peningkatan biaya transportasi. Distribusi barang juga terdampak akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang meningkatkan ongkos logistik nasional.

Rahma juga mengingatkan masyarakat kelas bawah berpotensi terkena tekanan tambahan dari naiknya biaya operasional angkutan umum dan ojek online akibat mahalnya suku cadang kendaraan yang mayoritas masih impor. 

BBM Subsidi Jadi Pagar Terakhir

Pemerintah saat ini masih menahan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar di tengah pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak dunia. Namun jika rupiah terus melemah mendekati Rp18.000 per dollar AS, risiko penyesuaian harga BBM subsidi akan semakin besar.

"Kalau kurs tidak segera kembali ke bawah Rp17.000, daya beli masyarakat akan tergerus oleh inflasi," ujar Rahma.

Kondisi ini berbahaya karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 53 persen terhadap PDB. Artinya, ketika daya beli masyarakat melemah, pertumbuhan ekonomi juga ikut terancam melambat. 

 

Banner Side 1
BAGIKAN :